Petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan Rutan Makale mengikuti Swab Test PCR

Petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Makale mengikuti Swab Test PCR, Sabtu (13/02/2021).

Pelaksanaan Swab Test PCR dilaksanakan atas kerjasama dengan Dinas Kesehatan Tana Toraja Cq RSUD Lakipadada sebagai tenaga medis dan dibantu oleh perawat atau Tim Kesehatan Rutan Makale.

Kepala Rutan Makale Luther Toding Patandung sangat antusias mengikuti pelaksanaan Test Swab, Dia Mengungkapkan bahwa Test Swab sangat penting untuk mengetahui atau mendeteksi ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, kita harus waspada terkena virus corona, apalagi bagi kelompok rentan yang berisiko mengalami dampak berat dari penyakit ini.

Lanjut Karutan menyampaikan  Petugas dan Warga Binaan bisa lebih tenang dan terjaga dari ancaman virus corona, selain melakukan pencegahan penularan, maka penting juga dilakukan pemeriksaan PCR Swab agar bisa mendeteksi ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh” ujar Luther

Sementara itu Petugas yang mengikuti Test Swab sebanyak 3 orang dan WBP sebanayak 17 orang. Pemeriksaan PCR swab menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan, dua area tersebut dipilih karena menjadi tempat virus menggandakan dirinya. Pemeriksaan ini dinilai lebih akurat, sebab virus corona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke dalam tubuh. Hasil akhir dari pemeriksaan PCR swab ini nantinya akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus COVID-19 di dalam tubuh seseorang.

Tim Kesehatan Rutan Makale dalam hal ini Perawat Rutan (Mieske Lolon) mengungkapkan “Kelebihan pemeriksaan PCR swab adalah keakuratannya dalam mendeteksi virus corona. Namun, membutuhkan waktu yang lebih lama sampai keluar hasil PCR Swab, bisa memakan waktu sampai 1 minggu untuk menunjukkan hasilnya sedangkan Rapid Test hanya 5 – 10 menit.

PCR adalah teknik pemeriksaan yang dilakukan untuk mencocokkan DNA atau RNA yang dimiliki virus. DNA atau RNA yang ada pada sampel dari swab tadi akan direplikasi atau digandakan sebanyak mungkin kemudian dicocokkan dengan susunan DNA SARS-COV2 sebagai template. Jika cocok, maka pasien yang diambil sampel lendirnya positif terinfeksi COVID-19, Sebaliknya, jika ternyata tidak cocok, tandanya orang tersebut negatif terinfeksi COVID-19”, ujar Mieske. (Humas Rutan Makale).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.